Pulo Geulis: Pulau Cantik di Tengah Ciliwung
Pulo Geulis merupakan sebuah kawasan unik yang terletak di tengah aliran Sungai Ciliwung. Disebut “pulau” karena letaknya berada di antara dua cabang sungai yang terbelah dan kembali menyatu, sehingga kawasan ini terlihat seperti sebuah pulau. Nama “Geulis”, dalam bahasa Sunda berarti “cantik”, melambangkan kecantikan perilaku dan toleransi penduduknya. Jejak Sejarah dari Era Pajajaran Sebelum menjadi pemukiman seperti sekarang, Pulo Geulis dikenal sebagai Parakan Baranangsiang, tempat peristirahatan keluarga Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482. Namun, setelah Kesultanan Banten menyerang dan menghancurkan Pajajaran pada 1579, kawasan ini tak lagi digunakan dan seolah menjadi tanah tak bertuan hingga akhir abad ke-17. Hingga tahun 1687, dua tim ekspedisi pernah mencoba menjelajahi kawasan ini, namun tak berhasil menemukannya. Baru pada tahun 1703, tim ekspedisi Abraham van Riebeeck dari Batavia menyusuri Sungai Ciliwung dan akhirnya menemukan kembali kawasan ini. Saat itu mulai tampak tanda-tanda kehidupan dan komunitas multikultur mulai terbentuk, terdiri dari masyarakat Tionghoa dan Sunda. Seiring waktu, Pulo Geulis menjelma menjadi kawasan padat penduduk. Warga Tionghoa perlahan pindah ke kawasan Suryakencana (sekarang dikenal sebagai kawasan Pecinan Bogor), dan para pendatang dari berbagai daerah mulai menetap di kampung seluas 3,5 hektare ini. Kepadatan semakin meningkat setelah dibangunnya Terminal Baranangsiang dan berkembangnya Pasar Bogor. Pada tahun 1970-an, wilayah ini secara resmi diberi nama Pulo Geulis dan masuk ke dalam Rukun Warga 04, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah. Saat ini, Pulo Geulis dihuni oleh sekitar 700 kepala keluarga atau sekitar 2.500 jiwa. Menurut pemerhati sejarah dan budaya Abraham Halim, pada masa awal 60% penduduknya merupakan etnis Sunda, dan 40% sisanya Tionghoa. Namun kini, sebagian besar penduduk Tionghoa telah digantikan oleh pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. “Dulu, sebelum menjadi permukiman padat, air Ciliwung sangat jernih. Bisa diminum langsung dan ikannya pun melimpah. Namun kini kondisinya sudah tercemar,” ujar Abraham Halim.
